Diberdayakan oleh Blogger.
Alutsista Armada kawasan timur
Satuan kapal korvet
Satuan kapal kawal
Minggu, 03 Februari 2013
Iran Perkenalkan Jet Qaher-313 Buatan Dalam Negeri
Selasa, 29 Januari 2013
Thailand Tampilkan Varian Baru Peluncur Roket DTI-1
kan Varian Baru Peluncur Roke
Defence Technology Institute (DTI) suatu badan riset dari Kementrian Pertahanan Thailand baru-baru ini mengeluarkan varian baru kendaraan peluncur roket multi laras DTI-1 kepada publik. DTI-1 merupakan kerjasama antara DTI dan China National Precision Machinery Import & Export Corporation (CPMIEC) dengan basis peluncur roket WS-1 buatan China.
Perbedaan yang nyata dari tampilan kendaraan ini dari serie sebelumnya terletak pada kabin pengemudi yang telah dilindungi secara penuh dengan pelat baja. Tersedia pula tempat bagi awak tambahan untuk peluncuran roket sebaris di belakang kursi pengemudi. Kendaraan yang dipakai diduga tetap menggunakan Volvo FM-400 6x6. Tidak dijelaskan Level STANAG dari lapisan baja untuk proteksinya.
Seperti halnya peluncur roket WS-1, maka DTI-1 juga mempunyai diameter roket 302 mm dan dapat menjangkau sasaran sejauh 180 km. Diameter roket dan jarak jangkau tersebut merupakan yang terbesar di kawasan. Sebagaimana diketahui, korps artileri Angkatan Darat Thailand memang sangat powerful dalam persenjataan.
Rokets DTI-1 dapat dilepaskan dengan kecepatan 5.2 mach, respon waktu yang dibutuhkan untuk penembakan adalah 20 menit. Berat kotor hulu ledaknya mencapai 150 kg, jenis hulu ledak yang dipakai ZDB-2B sama seperti seperti WS-1B yang digunakan China.
DTI masih mempunyai satu agenda riset terkait DTI-1, dengan tetap dibantu oleh CPMIEC negeri ini akan mengembangkan "DTI-1G [Guided]", dengan memakai roket kendali maka presisi penembakan DTI-1 akan lebih baik lagi.
Defence Technology Institute (DTI) suatu badan riset dari Kementrian Pertahanan Thailand baru-baru ini mengeluarkan varian baru kendaraan peluncur roket multi laras DTI-1 kepada publik. DTI-1 merupakan kerjasama antara DTI dan China National Precision Machinery Import & Export Corporation (CPMIEC) dengan basis peluncur roket WS-1 buatan China.
Perbedaan yang nyata dari tampilan kendaraan ini dari serie sebelumnya terletak pada kabin pengemudi yang telah dilindungi secara penuh dengan pelat baja. Tersedia pula tempat bagi awak tambahan untuk peluncuran roket sebaris di belakang kursi pengemudi. Kendaraan yang dipakai diduga tetap menggunakan Volvo FM-400 6x6. Tidak dijelaskan Level STANAG dari lapisan baja untuk proteksinya.
Seperti halnya peluncur roket WS-1, maka DTI-1 juga mempunyai diameter roket 302 mm dan dapat menjangkau sasaran sejauh 180 km. Diameter roket dan jarak jangkau tersebut merupakan yang terbesar di kawasan. Sebagaimana diketahui, korps artileri Angkatan Darat Thailand memang sangat powerful dalam persenjataan.
Rokets DTI-1 dapat dilepaskan dengan kecepatan 5.2 mach, respon waktu yang dibutuhkan untuk penembakan adalah 20 menit. Berat kotor hulu ledaknya mencapai 150 kg, jenis hulu ledak yang dipakai ZDB-2B sama seperti seperti WS-1B yang digunakan China.
DTI masih mempunyai satu agenda riset terkait DTI-1, dengan tetap dibantu oleh CPMIEC negeri ini akan mengembangkan "DTI-1G [Guided]", dengan memakai roket kendali maka presisi penembakan DTI-1 akan lebih baik lagi.
China Uji Coba Sistem Anti Rudal Balistik
Kementerian Pertahanan China mengonfirmasi tentang keberhasilan mereka mengujicoba sistem penangkal atau anti serangan peluru kendali. Ini menjadi langkah kedua kali China setelah operasi serupa pada 11 Januari 2010.
Uji coba seperti itu sebelumnya juga dilakukan Amerika Serikat dan Jepang. Materi tes meliputi juga pendayagunaan teknologi deteksi yang rumit, melacak, dan menghancurkan misil balistik yang terbang di ruang angkasa.
China menunjukkan "kekuatan otot" militernya secara semakin terbuka melalui kampanye pemberitaan yang terang-terangan. Pada masa lalu, China sangat tertutup tentang hal ini, laiknya sikap negara-negara komunis.
Sebelumnya, Korea Selatan juga mengujicoba sistem serupa yang dinamakan Naro, sebagai respons dari peluncuran "sistem satelit" melalui roket Unha-3 Korea Utara.
China memerlukan berbagai sumber daya secara masif dan ruang seluas-luasnya di dunia untuk bisa memelihara tingkat pertumbuhan ekonomi bagi 1,2 miliar penduduknya sekaligus meningkatkan penetrasi pasar produknya. China juga secara semakin agresif dan terang-terangan mengklaim sepihak atas sebagian besar perairan Laut China Selatan.
Sikap ini berhadapan langsung dengan kepentingan serupa atas sebagian kecil Laut China Selatan oleh Brunei Darussalam, Viet Nahm, Filipina, dan Malaysia. China juga tengah bersengketa serius tentang kepemilikan perairan dengan Jepang atas Kepulauan Senkaku, di Laut China Timur. Sebelumnya China dilaporkan sangat kecewa dan menentang keras pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton soal Kepulauan Senkaku yang memperingatkan Beijing jangan menentang kekuasaan Tokyo atas Kepulauan Senkaku itu.
Sumber : Antara
Selasa, 06 November 2012
Tank Leopard dan Marder Dipamerkan di Indo Defense
Seorang teknisi berada di atas Main Battle Tank (MBT) Leopard. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/ama/12)
Sejumlah teknisi berada di atas Main Battle Tank (MBT) Leopard dan Medium Tank (IFV) Marder. (Foto: ANTARA/Prasetyo Utomo/ama/12)
Sumber: ANTARA
Langganan:
Postingan (Atom)
















